Awi, Pria Penyelamat Anak Thalasemia Selama 7 Tahun di RSUD Muhammad Zein

Awi, Pria Penyelamat Anak Thalasemia Selama 7 Tahun di RSUD Muhammad Zein

Kehidupan Seorang Penderma Darah yang Tak Pernah Berhenti

Di Desa Kurnia Jaya, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, suasana tenang terasa usai pelaksanaan ibadah sholat Jumat. Di sebuah teras rumah sederhana, Awi (38) duduk santai dengan pakaian koko lengkap dengan sarung dan peci. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Awi sesekali melirik jam di ponselnya. Tampilan menunjukkan pukul 13.15 WIB.

Masih ada waktu sekitar 45 menit sebelum ia harus berganti seragam dan berangkat menuju RSUD Muhammad Zein untuk memulai shift kerjanya sebagai cleaning service (CS) tepat pukul 14.00 WIB nanti. Di balik penampilannya yang religius, Awi menyimpan cerita yang luar biasa. Di mata orang lain, Awi mungkin hanya seorang tukang bersih-bersih berbadan kurus. Namun, bagi Riski (13), seorang remaja penyintas Thalasemia, Awi adalah sosok pahlawan.

Donor Darah Tanpa Henti

Selama tiga tahun lamanya, darah golongan A milik Awi menjadi penopang hidup Rizky. Setiap tiga bulan sekali, tanpa pernah absen, Awi merelakan lengannya ditusuk jarum demi satu kantong darah yang menjadi pendukung kehidupan bocah itu.

“Ceritanya tidak ada rencana. Dulu ibunya Riski mencari-cari pendonor di rumah sakit, tanya ke sana-kemari karena anaknya butuh darah. Kebetulan teman-teman di RS tanya golongan darah saya, ternyata cocok. Akhirnya rutinlah saya kasih untuk dia,” cerita Awi.

Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, Awi memposisikan dirinya sebagai pendonor tetap. Ia tahu betul betapa pentingnya suplai darah bagi penderita Thalasemia. Tanpa transfusi rutin, kondisi fisik mereka akan menurun drastis atau bahkan bisa berujung kematian.

Dalam setiap sesi donor, Awi hanya mendonorkan satu kantong saja untuk diambil oleh petugas meski sempat ditawari untuk mendonor dua kantong. Hal ini adalah caranya agar ia bisa terus konsisten.

Awi khawatir, jika ia mendonorkan lebih dari satu kantong dalam sekali waktu, kondisi fisiknya akan menurun drastis. Ia takut tubuhnya menjadi tidak kuat dan justru akan menghambat jadwal donor rutin di tiga bulan berikutnya.

“Sekali donor itu satu kantong saja. Saya tidak berani kalau lebih, takutnya nanti badan saya malah tidak kuat untuk donor lagi di tiga bulan depan. Kasihan Risky nanti susah cari darah kalau saya tidak bisa donor karena sakit,” ujarnya.

Cerita Lain di Balik Kehidupan Awi

Cara tersebut terbukti ampuh. Secara rutin, dalam setahun Awi bisa mendonorkan darahnya sebanyak empat kali. Selama tiga tahun bersama Riski, setidaknya 12 kantong darah telah berpindah ke tubuh remaja tersebut.

Namun, fakta mengejutkan rupanya terkuak dari cerita Awi ini. Sebelum menjadi pendonor Riski, Awi telah melakukan hal serupa untuk seorang anak bernama Deden. Selama tiga tahun lebih, Awi menjadi pendonor setia bagi Deden hingga ajal menjemput bocah tersebut.

"Dulu sebelum sama Riski, ada almarhum Deden. Saya rutin beri darah untuk dia sampai dia meninggal. Ada tiga tahun lebih saya donor untuk dia," ucapnya.

Wafatnya Deden tak lantas memadamkan niat tulus Awi. Justru setelah Deden tiada, ibu Riski yang sedang kesulitan mencari darah segera menghubunginya. Tanpa pikir panjang, Awi menyetujui.

Awi menjelaskan bahwa tidak ada hubungan keluarga antara dirinya dengan Rizky maupun mendiang Deden. Secara tidak langsung berarti alasan yang membuatnya bertahan selama hampir tujuh tahun menjadi pendonor rutin adalah panggilan jiwa.

“Alasannya sosial saja. Saya tidak ingin mereka susah mencari darah ke sana-kemari. Saya sering lihat di rumah sakit bagaimana sulitnya keluarga pasien mencari pendonor, kasihan,” katanya.

Bekerja di RSUD Muhammad Zein membuatnya sering bersinggungan pada hal-hal medis. Hal itu memicu empati besar, hingga ia merasa wajib menjaga tubuhnya sendiri agar tetap prima demi orang lain yang bergantung pada darahnya.

Kepercayaan dan Kepedulian

Awi sadar jika kondisi tubuhnya menurun, maka kesehatan Riski pun ikut terancam. "Kuncinya istirahat cukup dan tidak begadang. Itu saja rahasianya. Alhamdulillah selama tiga tahun ini tidak pernah ada kendala sakit yang sampai menunda jadwal donor. Semuanya selalu aman," ungkapnya.

Setiap kali mendonorkan darah, Awi tak pernah mengharapkan imbalan materi sepeser pun, kecuali bingkisan standar rumah sakit berupa kue dan vitamin penambah darah.

“Tidak ada bayaran uang. Cuma dapat bingkisan dari RS, itu saja sudah lebih dari cukup buat saya,” tuturnya.

Pukul 13.45 WIB, Awi mulai beranjak dari teras rumahnya. Ia harus segera berangkat kerja. Sebelum menutup obrolan, Awi menitipkan harapan bagi anak-anak Thalasemia. Ia ingin mereka tetap kuat menghadapi ujian hidup yang panjang ini.

“Mudah-mudahan mereka diberi kesabaran. Mudah-mudahan sembuhlah atas izin Yang Maha Kuasa. Insyaallah mereka bisa kuat kalau sabar,” harapnya.


Lebih baru Lebih lama