Menggali Karya Nor Jayadi, Kursi Ergonomis yang Mengukir Sejarah Yogyakarta

Menggali Karya Nor Jayadi, Kursi Ergonomis yang Mengukir Sejarah Yogyakarta

Karya Seni Plengkung Dining Chair yang Menggabungkan Budaya dan Fungsionalitas

Nor Jayadi, seorang dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, memperkenalkan karya seni terbaru yang bernama Plengkung Dining Chair. Kursi makan ini tidak hanya memiliki estetika yang menarik, tetapi juga dirancang dengan mengutamakan ergonomis. Karya ini dibuat dari bahan kayu jati yang memiliki kekuatan dan fleksibilitas tinggi.

Inspirasi dari Sejarah Plengkung Gading

Desain kursi ini terinspirasi oleh sejarah Plengkung Gading Yogyakarta. Dengan menggabungkan unsur budaya Jawa dan konsep natural etnik, Nor Jayadi menciptakan karya yang memiliki makna mendalam. Kursi ini bukan hanya sekadar furnitur, tetapi juga representasi dari sejarah dan nilai budaya yang kaya.

Plengkung Dining Chair memiliki ukuran 49x56x85 sentimeter. Bentuknya yang unik dan desainnya yang modern menarik perhatian publik. Kursi ini dirancang untuk pasar produk massal yang inovatif, baik untuk konsumen lokal maupun luar negeri.

Eksperimen dalam Desain

Kepala Prodi Desain Produk ISI Yogyakarta, Endro Trisusanto, menyebut Nor Jayadi sebagai seniman yang penuh eksperimen. Ia mengapresiasi cara Nor Jayadi mengolah karakter bahan kayu jati. Menurut Endro, kayu jati memiliki serat yang kuat dan fleksibel, sehingga cocok untuk berbagai bentuk desain.

"Kayu jati mudah diukir dan memiliki nilai estetika tinggi," ujarnya. Selain itu, karya ini juga mengambil konsep dari Plengkung Gading atau yang dikenal sebagai Plengkung Nirbaya. Itu menjadi salah satu dari lima gerbang utama yang mengelilingi Keraton Yogyakarta.

Kombinasi Budaya dan Sejarah

Dengan begitu, karya tersebut bukan hanya estetik, tetapi juga mampu menggabungkan sejarah hingga memiliki makna penting dalam budaya Jawa. Desain konsep yang dipersembahkan berupa natural etnik Yogyakarta.

"Karya itu juga mengikuti lengkungan tubuh jadi lebih ergonomis dan estetik. Jadi, karya yang dipersembahkan menurut saya tidak hanya konvensional, tetapi juga ada penggalian estetik yang dipadukan dengan unsur budaya," terang Endro.

Berorientasi pada Pasar Massal

Produk ini berorientasi pada pasar mass product (produk massal) dan market oriented. Dengan begitu, diharapkan dapat dilirik oleh pasar asing. Apalagi, biasanya karya seni sejenis tersebut dilirik oleh warga negara asing.

Ide dari Peluang Pasar

Nor Jayadi mengakui bahwa ide karya tersebut didapatkan dari banyaknya peluang pasar akan produk kursi dengan nuansa etnik, estetik, dan ikonik. "Itu yang membuat saya mencari segmen pasar yang berbeda dan material yang ada di sekitar kita," ujarnya.

Menurutnya, kunci keberhasilan sebuah produk selalu mengedepankan inovasi dan desain sebagai barometer. Dengan desain baru maka selalu menarik untuk dipasarkan karena itu yang selalu dicari customer.

"Dining chair sebagai aktivitas makan dalam kegiatan sehari-hari dikembangkan menjadi macam-macam bentuk yang ikonik dan estetik, kursi selain mengutamakan unsur ergonomic juga harus mengutamakan unsur estetika, sehingga penggunaan material natural etnik menjadi hal yang menarik," ucapnya.


Lebih baru Lebih lama